3 insight utama yang menggambarkan denyut industri venture capital Indonesia

10 March 2026

Ekosistem startup Indonesia, yang dulu sempat menjadi primadona di kalangan venture capital Asia Tenggara, saat ini sedang menghadapi fase evaluasi.

Setelah lebih dari satu dekade bertumbuh sangat cepat, kombinasi perubahan makroekonomi global dan berbagai tekanan di dalam negeri membuat laju ekosistem ini melambat cukup signifikan. Namun, kondisi ini bukan akhir dari perjalanan. Para pemimpin dari Kementerian Komunikasi dan Digital, Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia, serta sejumlah firma venture capital terkemuka melihatnya sebagai masa jeda yang sehat untuk membangun fondasi yang lebih kuat.

Pandangan tersebut, bersama berbagai masukan penting lainnya, muncul dalam Investor Luncheon: Rewriting the Future of Indonesia’s VC Investment yang digelar pada 22 Oktober 2025. Acara yang diselenggarakan oleh Komdigi dan Tech in Asia ini mempertemukan 27 pemangku kepentingan utama untuk membahas bagaimana tantangan saat ini bisa diubah menjadi pijakan menuju ekonomi digital yang lebih matang, transparan, dan tangguh.

Berbagai insight dan rekomendasi dari pertemuan ini kemudian dirangkum dalam sebuah laporan, dan berikut adalah gambaran singkatnya.

Musim dingin yang dirasakan di berbagai wilayah

Angka-angka yang ada menunjukkan situasi yang cukup menantang. Data Tech in Asia mencatat bahwa penghimpunan dana private capital global turun 23% pada 2024. Di kawasan Asia-Pasifik, dana dari limited partners pada tahun yang sama tercatat sebesar US$74 miliar, atau 43% lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir.

Indonesia pun tidak luput dari tekanan ini. Investasi ke startup di dalam negeri telah menunjukkan tren penurunan selama lima tahun terakhir. Hingga November 2025, total pendanaan sepanjang tahun berjalan baru mencapai US$685 juta dari 64 transaksi. Angka ini turun tajam dibandingkan 2024 yang mencatat US$846 juta dari 131 transaksi sepanjang tahun.

Meski begitu, suasana dalam forum tetap diwarnai optimisme yang terukur. Dari polling singkat yang dilakukan, para peserta memberi skor 3,7 dari 5 untuk prospek inovasi dalam lima tahun ke depan. Namun untuk masa depan yang lebih dekat, banyak pihak masih memilih bersikap hati-hati dan menunggu perkembangan.

Managing Partner Skystar Capital, Abraham Hidayat, menggambarkan kondisi ekosistem saat ini dengan analogi yang cukup tajam: seperti pasien yang sedang dirawat di ICU. Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari China yang berhasil membangun ekosistem startup domestik lewat penguatan riset dan pengembangan yang berkelanjutan, termasuk keterlibatan perguruan tinggi dan akademisi.

Di sisi lain, sejumlah pelaku industri seperti Ronald Simorangkir dari Mandiri Capital Indonesia dan Rizki Mirzy Ramadhana dari Telkomsel Ventures menyampaikan bahwa saat ini perusahaannya cenderung bermain aman, dengan lebih memprioritaskan sinergi strategis bersama perusahaan induk dibanding mengambil risiko tinggi pada investasi baru.

Dari diskusi tersebut, ada tiga poin utama yang menonjol, lengkap dengan rekomendasi yang muncul dari para peserta.

1. Kualitas founder dan kepemimpinan makin menentukan

Dibanding faktor lain seperti rencana pertumbuhan agresif atau bahkan kemampuan menjawab persoalan besar di pasar, mayoritas peserta acara, yaitu 42,86%, menilai bahwa kualitas founder dan kepemimpinan tim pendiri adalah hal yang paling perlu diprioritaskan oleh startup di Indonesia agar bisa bertahan dan terus berkembang.

Managing Partner DS/X Ventures, Amir Karimuddin, menyampaikan bahwa situasinya kini sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Dulu, founder startup masih bisa datang hanya dengan pitch deck dan tetap mendapatkan pendanaan. Sekarang, sekuat apa pun ceritanya, kalau mereka tidak bisa menunjukkan traction dan membuktikan kapasitas eksekusinya, investor kemungkinan besar tidak akan tertarik.

Untuk membentuk lebih banyak founder dengan kualitas seperti itu, para peserta menilai pendekatan dari akar rumput perlu diperkuat. Mereka juga mendorong hadirnya program pengembangan founder yang dibangun bersama oleh universitas, pelaku industri, dan asosiasi.

2. Berbagai hambatan masih menahan laju investasi

Sejumlah peserta dari komunitas venture capital menyoroti berbagai kendala yang membuat aktivitas investasi menjadi lebih sulit. Tantangannya beragam, mulai dari infrastruktur yang belum cukup mendukung inovasi berkelanjutan, hingga tata kelola regulasi yang dinilai belum cukup ramah bagi investor yang lebih sophisticated seperti firma VC.

Para peserta juga menyinggung faktor lain yang dianggap menghambat, yaitu Rancangan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau P2SK. Menurut laporan Kompas, regulasi ini memuat ketentuan untuk memperkuat pengawasan DPR terhadap Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan.

Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa langkah seperti ini bisa melemahkan independensi dan kewenangan pengambilan keputusan lembaga-lembaga regulator keuangan. Ada kekhawatiran bahwa campur tangan tersebut dapat membatasi otonomi otoritas keuangan dan membuatnya lebih rentan terhadap kepentingan politik.

Selain itu, para investor juga menyoroti tantangan lain yang tidak kalah penting, yaitu semakin sempitnya peluang exit, baik melalui IPO, merger dan akuisisi, maupun pasar sekunder. Isu ini disebut oleh 35% peserta sebagai salah satu hambatan utama.

Untuk menjawab persoalan tersebut, peserta forum merekomendasikan beberapa langkah, seperti penyederhanaan proses IPO dan M&A, pemberian kejelasan terkait pajak capital gain, serta penguatan kolaborasi antara bursa, regulator, dan pelaku industri agar jalur likuiditas bagi startup tahap growth bisa semakin kuat.

3. Peran regulator sangat penting untuk menciptakan lanskap investasi yang lebih sehat

Para peserta memberi skor rata-rata 4 dari 5 terhadap pentingnya peran regulator dalam mendorong perubahan yang positif dan berkelanjutan bagi iklim investasi di Indonesia, khususnya di sektor teknologi dan startup.

Karena itu, banyak peserta menekankan pentingnya penyelarasan antara proses kebijakan dan tujuan jangka panjang.

Salah satu staf khusus dari institusi pemerintah menyoroti bahwa banyak orang berbicara soal AI, tetapi infrastruktur dasarnya sendiri belum siap. Menurutnya, Indonesia bahkan belum memiliki Pusat Data Nasional yang benar-benar tersedia saat ini. Artinya, masih banyak hal mendasar yang perlu dibenahi dari dalam.

Ia juga menambahkan bahwa koordinasi memang sangat penting, tetapi pelaksanaan dari koordinasi itu pada akhirnya tetap bergantung pada masing-masing kementerian dan lembaga. Ujungnya, persoalan ini kembali pada isu birokrasi dan politik.

Sebagai tindak lanjut, para peserta merekomendasikan agar selain membangun Pusat Data Nasional, Indonesia juga memiliki basis data resmi yang mencatat seluruh aktivitas pendanaan startup di dalam negeri. Kehadiran database seperti ini dinilai penting untuk melacak arus investasi secara lebih akurat, sekaligus menjadi fondasi bagi ekosistem yang lebih terukur.

Menuju ekosistem startup Indonesia yang lebih sehat

Forum ini menjadi ruang penting bagi tokoh-tokoh utama ekosistem startup untuk menyampaikan kegelisahan, masukan, dan rekomendasi mereka. Harapannya, ini bisa menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali salah satu ekosistem startup paling dinamis di Asia Tenggara.

Pemerintah Indonesia, melalui Direktorat Jenderal Ekosistem Digital, juga mulai menunjukkan pergeseran peran. Seperti disampaikan oleh Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, kementerian ingin hadir sebagai mitra pertumbuhan, bukan semata-mata regulator.

Karena itu, masa jeda yang konstruktif ini bisa menjadi kesempatan untuk merapikan hal-hal yang tidak lagi sehat dan membangun fondasi yang lebih berintegritas. Jika Indonesia mampu menyelaraskan regulasi, memberdayakan founder berkualitas, dan menghadirkan jalur likuiditas yang jelas, maka babak berikutnya dalam ekonomi digital Indonesia berpotensi menjadi yang paling tangguh sejauh ini.

Komdigi sendiri terus berupaya mendorong konektivitas digital yang inklusif dan bermakna, sekaligus membangun ekosistem digital yang memberdayakan serta ruang digital yang aman dan berdaulat.

Sumber: https://www.techinasia.com/3-key-insights-echoing-pulse-indonesias-vc-scene
Kembali